koleksi relik

Koleksi Relik

Dalam sepanjang hidupNya, Lama Zopa Rincpoche telah mengumpulkan relik-relik yang langka yang dipersembahkan oleh para Guru-Guru Spiritual di dunia ini. YM Dalai Lama telah mempersembahkan delapan relik dari Buddha Sakyamuni untuk koleksi itu. Pada akhirnya seluruh relik akan diabadikan dalam patung Buddha Maitreya yang akan dibangun di India.

Di bawah ini adalah informasi dari relik-relik yang telah di koleksi:

Buddha Sakyamuni

-- 4 relik yang serupa dipersembahkan oleh Yang Mulia Dalai Lama ke-14

-- relik darah datang dari Museum Relik Meiktila di Burma dan dipesembahkan oleh kepala biara yang mengelola museum tersebut.

-- relik kepala dipersembahkan kepada Lama Zopa Rinpoche oleh murid Beliau, Wu Wen Yuen di Taipei, Taiwan pada tahun 2001

-- relik butiran kecil yang dipersembahkan oleh seorang bhikkhu Thailand yang membawa relik tersebut ke Malaysia

-- relik serpihan salju, putih berasal dari Museum relik Meiktila di Burma

-- Satu relik besar dan tiga relik kecil dipersembahkan oleh seorang bhikkhu senior di Borobudur Indonesia.




NAGARJUNA
Nagarjuna (abad 2-3) merupakan seorang pandit India yang menyadari bahwa sangat sedikit orang yang mengerti sifat sesungguhnya dari realita yang diajarkan Sang Buddha di dalam sutra-sutra Penyempurnaan Kebijaksanaan. Beliau mengetahui bahwa jika hal ini tidak bisa dipahami maka tidak ada jalan untuk keluar samsara (lingkaran kelahiran kembali yang tidak terkontrol) dengan mencapai pembebasan. Oleh karena itu, Nagarjuna menyusun Five Treatises on Reason yang menjelaskan Jalan Tengah (Middle Way).
Beliau menunjukkan bahwa kebenaran tertinggi dan kebenaran konvensional tidaklah kontradiktif, melainkan saling melengkapi. Beliau menunjukkan bahwa walaupun bahkan bagian terkecil yang bisa dibayangkan dari sebuah atom tidak eksis secara tidak terkondisi (yang mengacu pada kebenaran tertinggi), kebenaran konvensional dari karma (sebab dan akibat) adalah tidak berkontroversi (dengannya): tindakan bajik (tetaplah) menghasilkan kebahagiaan dan tindakan tidak bajik menghasilkan penderitaan.
Relik tersebut berasal dari Biara Labrang Tashi Khyil di Tibet dan diberikan oleh Jamyang Shepa Rinpoche.

LAMA ATISHA
Lama Atisha (982-1054) lahir di Bengal, India. Beliau menjadi cendikiawan terpelajar di Biara Nalanda di India, yang bisa dianggap sebagai biara filosofi Buddhis termasyur sepanjang masa.
Di Tibet, pernah terjadi kebingungan mengenai bagaimana mempraktekkan ajaran Sang Buddha dengan benar. Raja Tibet, Yeshe Od, melakukan perjalanan panjang dan berbahaya menuju India untuk mengundang Lama Atisha ke Tibet agar beliau bisa menghilangkan kebingungan tersebut.
Di tengah perjalanan, Raja Yeshe Od ditangkap oleh penguasa setempat Raja Garlok, tetapi daripada memberikan uangnya sebagai tebusan, dia menggunakannya untuk mengirim pembawa pesan ke Lama Atisha. Karena itu, tanpa uang, dia tidak bisa membayar tebusannya, Yeshe Od meninggal di dalam penjara.
Ketika Lama Atisha mengetahuinya, beliau sangat tersentuh oleh aspirasi sang raja demi rakyatnya dan juga pengorbanan yang telah diberikannya. Atisha melakukan perjalanan ke Tibet, tiba pada tahun 1042, untuk menurunkan silsilah yang tidak terputuskan dari ajaran Sang Buddha. Ketika di Tibet, beliau menulis sebuah teks Buddhis terkenal, Cahaya Penerang Jalan Menuju Pencerahan (Lamp on the Path to Enlightenment), yang untuk pertama kalinya menyusun semua ajaran Sang Buddha ke dalam sebuah jalan tunggal praktek.
Relik putih tersebut diberikan ke Lama Zopa Rinpoche oleh Y.M. Sakya Jigdrol Dagchen Rinpoche. Beliau menerimanya dari tempat penyimpanan relik Sakya di Tibet.

MARPA SANG PENERJEMAH
Marpa Lotsawa, “Marpa Sang Penerjemah”, (1012-1097) lahir di Lhodrak Chukhyer di bagian selatan Tibet, dari sebuah keluarga makmur. Beliau mulai belajar pada usia muda tetapi memiliki perilaku yang liar dibandingkan anak-anak lainnya. Kemudian, beliau memutuskan berangkat ke India untuk belajar dengan guru Buddhis India yang terkenal. Untuk mencapai tujuan tersebut, Marpa kembali ke rumahnya di Lhodrak dan menukar semua warisannya menjadi emas untuk membiayai kebutuhan perjalanannya dan sebagai persembahan untuk gurunya.
Marpa menghabiskan waktu 12 tahun belajar dengan Naropa dan guru-guru besar India lainnya. Setelah 12 tahun, beliau kembali ke Tibet dimana ia menghabiskan banyak tahun untuk mempraktekkan jalan Buddhis, mengajar, dan menerjemahkan kitab-kitab Buddhis. Beliau memberikan kontribusi terbesar pada transmisi lengkap ajaran Sang Buddha ke Tibet. Marpa terkenal sebagai guru spiritual Milarepa, yang dikenal luas sebagai yogi termasyur dari Tibet.
Relik marpa diberikan oleh Raymond dan Emily Wu selama acara tur relik di kota New York, New York, USA, tahun 2004.

MILAREPA
Milarepa adalah salah satu yogi Tibet yang paling dikagumi. Beliau lahir pada tahun 1052.
Ketika ayahnya yang kaya meninggal, paman Milarepa merampas warisan keluarganya. Atas permintaan ibunya, Milarepa mempelajari ‘ilmu hitam’, membunuh banyak orang yang berhubungan dengan pamannya.
Kemudian, Milarepa bertobat dan mencari guru spiritual. Beliau menemukan Marpa Sang Penerjemah yang memperlakukannya dengan sangat keras untuk mempurifikasi karma sebelumnya Milarepa yang menyebabkan begitu banyak kerugian pada orang lain.
Dalam jangka waktu yang lama Marpa menolak memberikan ajaran apapun kepada Milarepa, malah memberikannya serangkaian tugas yang makin sulit dan membuat frustasi. Sebagai contoh, beliau meminta Milarepa membangun sebuah rumah dengan tangan dan setelah selesai, menyuruh dia membongkarnya.
Akhirnya, Marpa memberikan Milarepa banyak ajaran dan inisiasi dan Milarepa mempraktekkannya dengan sepenuh tenaga sambil tinggal sendirian di sebuah gua dan hanya mengkonsumsi jelatang. Di bawah bimbingan Marpa, beliau mencapai pencerahan.
Milarepa menyusun banyak nyanyian spiritual yang menunjukkan realisasinya. Salah satu bait yang terkenal adalah:
“Meditasi pada sifat alami batin yang tidak dilahirkan – bagai ruang, tanpa pusat, tanpa batas; bagai matahari dan bulan, terang dan jelas; bagai sebuah gunung, tidak bergeser, tidak goyah; bagai samudera, dalam dan tak terukur.”
Relik Milarepa diberikan kepada Lama Zopa Rinpoche oleh muridnya, Wu Wen Yuen di Taiwan, 2001.

LAMA TSONGKHAPA
Lama Tsongkhapa (1357-1419) lahir di daerah Tsong Kha, Provinsi Amdo di Tibet bagian timur. Beliau adalah pendiri tradisi Gelug pada Buddhisme Tibetan, dan terkenal dengan dedikasinya pada praktek mental dan fisik yang penuh semangat.

1 comment:

  1. nice...
    apa relik itu sama dg yg disebut batu sarira? batu yg ditemukan dr sisa kremasi orang dg tingkat spiritual tertentu?

    ReplyDelete